Rabu, 15 Februari 2017

BUKU, PRAM DAN JAKARTA


Dalam penulisan skripsi ketika masa kuliah, saya salah satu mahasiswa yang  sulit merangkai kata dalam kalimat. Tahun 2010 mata kuliah sudah tidak ada lagi sehingga sedikit demi sedikit saya mengumpulkan bahan-bahan skripsi.
Dikarenakan kesulitan saya dalam menulis maka salah satu dosen di Jurusan Ilmu Sejarah   Universitas Hasanuddin (UNHAS), memperkenalkan saya novel yang sangat tebal, kertasnya berwarna coklat, sampulnya berwarna hijau, coklat dan bertuliskan Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia.
Saya sangat-sangat heran dan aneh saja kenapa diberikan buku ini, saya bolak-balik dari depan kebelakang dan membaca sinopsisnya. Batas waktu yang diberikan oleh dosen untuk menyelesaiankannya satu minggu dan novel Bumi manusia ini tebalnya 535 halaman.  
Ketika membaca buku Bumi Manusia dari halaman paling pertama, banyak sekali karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini menceritakan kejadian pada zaman Hindia Belanda sekitar Abad ke-19.  Kisah percintaan Antara Annalies Mellema dan Minke menambah keseruan cerita novel Bumi Manusia. Selain itu cerita Nyai Ontosoro yang menggambarkan seorang ibu yang tegar. Ayah dari Nyai Ontosoro memaksa Nyai Ontosoro menikah dengan Herman Mellem, Laki-laki dari Eropa. Selain itu hak atas Annalies Mellema sedikitpun tidak diberikan oleh ibu kandungnya Nyai Ontosoro.
Novel Bumi Manusia yang dituliskan oleh Pramoedya Ananta Toer, merupakan penulisan yang menarik cerita sejarah yang disajikan dalam bentuk novel.  Pramoedya Ananta Toer pula menuliskannya sangat terdiskripsi, seperti ketika Minke datang ke rumah Annalies Mellema dan Minke di ajak makan oleh Nyai Ontosoro, Pram membahasakan dalam  tulisannya dari meja makan, isinya, suara sendok semuanya dibahasakan. 

Setelah membaca novel Bumi Manusia, ternyata saya jadi ketagihan memiliki tetrologinya. Karena ketagihan membaca novel-novel yang ditulsi Pram, saya lebih memilih membeli novel-novel Pram dibandingkan membeli buku  untuk bahan skripsi. Saya rela pula  menghabiskan uang untuk membelinya.
Membacalah saya terus-menerus hingga lupa akan skripsi. Pencarian buku-buku Pramoedya Ananta Toer tidak sampai Di Jogjakarta saja. Pada tahun 2011 saya melakukan penelitian di Jakarta mengunjungi Perpustakan Nasional untuk melihat koran-kora tua.
Saya ngekost depan Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan penerbit buku Lentera Dipantara letaknya  di Jakarta Timur, Jalan Multi Karya II/26 Utan Kayu. Saya semakin semangat untuk mengumpulkan Novel-novel karya Pram.
Dikala itu matahari berlahan-lahan memunculkan sinarnya, saya bergegas segera siap-siap. Saya tidak sendiri ada teman yang menemani mencari penerbit Lentera Dipantara. Selam perjalanan kami bertanya-tanya hingga bertanya tiga kali dimana Jalan Multi Karya, dan ketika itu kami naik Bus Metromini lalu kami naik bajai, ketika kami naik bajai kami bertanya-tanya pula dimana Penerbit Lentera Dipantara. Diluar dugaan saya sebelumnya saya bayangkan seperti ruko yang ada di Makassar, ternyata seperti rumah.
Rumah yang sangat sederhana tidak terlalu besar, adem karena terdapat pohon dan banyak kembang bunga. Saya melihat langsung ruangan  Pram yang biasanya dipakai untuk menulis karyanya, selain itu ruangan yang biasanya Pram pakai ketika diwawancarai, begitu banyak buku-buku dalam ruangan tersebut.
Karena ingin membaca beberapa koleksi Pram, maka cucu dan anak Pram itu  terheran-heran jauh dari Makassar dan datang dipagi hari, dan saya membeli banyak buku antara lain Midah Simanis Bergigi Emas, Larasati, Cerita Calong Arang, Panggil Aku Kartini Saja, Pasar Malam, Relaisme Sosialis dan Lainnya.
 

Anak terakhir Pram ketika itu menyampaikan ke saya bahwa “Anna kamu telat datang kerumah, ketika Beliau masih hidup begitu banyak mahasiswa datang kerumah untuk berdiskusi”.
 Betapa saya menyukai karya-karya Pram sehingga saya mendatangi penerbit dimana Novel-novel Pram diterbitkan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar